Skip to content

Sya’ban, Bulan yang Terabaikan

28 Juni 2013

DALAM kalender penanggalan hijriyah, ada satu bulan yang kerap terabaikan dari ingatan kaum muslimin yakni, Bulan Sya’ban. Bulan ini terabaikan karena posisinya terimpit diantara dua bulan tersohor yaitu Rajab dan Ramadhan.

Seharusnya, jika merujuk pada salah satu hadits Nabi Muhamamd Saw, bulan Sa’ban dan Ramadhan masing-masing memiliki kekhususan yang sejatinya diketahui setiap muslim dalam konteks untuk menunaikan ibadah; yaitu ibadah mengisi kehidupan menuju ridha Nya. Termasuk, beribadah yang sifatnya individual, membina hubungan vertikal (hablum minallah) maupun ibadah sosial membangun hubungan horizontal (hablum minannas).

Terkait keutamaan Bulan Syakban, Dekan Fakultas Ushuludin, IAIN Ar-Raniry, Dr Syamsul Rijal, MAg dalam perbincangan dengan Serambi, Rabu (26/6) khusus terkait bulan Sya’ban mengatakan, tentu umat Islam tidak akan mengabaikan Bulan Sya’ban jika memahami filosofi serta nilai arti penting dari bulan sya’ban itu sendiri. Ia kemudian mengutip salah satu hadits Nabi di mana dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah bulan yang menyucikan dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa” (HR. Imam al-Dailami).

Menurutnya, dalam kalender Hijriyah, Sya’ban berada pada urutan bulan ke delapan. Dinamakan dengan Sya’ban karena bulan ini terdapat bercabang-cabang kebaikan yang banyak bagi bulan Ramadhan.

Seperti dikatakan Ibnu Manzhur dengan mengutip pendapat Tsa’lab menyebutkan bahwa di antara ulama berpendapat bulan tersebut dinamakan dengan Syakban karena ia sya’ab, artinya zhahir (menonjol) diapit di antara dua bulan, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan.

Dalam kultur Indonesia dan Aceh, bulan Sya’ban dijadikan aktivitas pra-Ramadhan dalam arti mempersiapkan diri dengan meningkatkan zikir, ibadah dan amal saleh. Kondisi ini, menurut Syamsul Rijal sebagai fase pemanasan jelang tibanya bulan Ramadhan sebaga bulan penghapus dosa. “Lazimnya kaum muslimin mengikuti tradisi Rasulullah menunaikan puasa sunat ada waktu tertentu sejak awal Syakban sampai dengan malam nisfu Syakban menunaikan salat tasbih, yasinan serta zikir lainnya,” ujarnya.

Bagaimana Rasulallah beribadah pada bulan Sya’ban? dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya melihat engkau berpuasa dalam sebulan yang tidak saya lihat engkau berpuasa seperti demikian dalam bulan yang lain”. Rasulullah Saw berkata: “Bulan mana?” Saya berkata : “Bulan Sya`ban”. Rasul Saw menjawab: “Bulan Sya`ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang banyak di manusia lalai darinya. Dalam bulan Sya`ban di angkat amalan manusia, maka aku cintai tidak diangkatkan amalanku kecuali sedangkan aku dalam keadaan berpuasa”. Saya berkata: “Saya melihat engkau berpuasa hari Senin dan Kamis dan tidak engkau tinggalkan keduanya.” Rasul Saw menjawab: “Sesungguhnya amalan hamba diangkat dalam kedua hari tersebut, maka aku cintai tidak diangkatkan amalanku kecuali sedangkan aku dalam keadaan berpuasa”. (HR. Imam al-Baihaqi).

“Mendasari hal tersebut, tentu saja bulan Syakban sarat hikmah yang dapat diambil dengan meningkatkan intensitas ibadah dan amal saleh di dalamnya. Dalam konteks inilah secara kultural telah mentradisi di mana kauma muslim di bulan Sya’ban dijadikan sebagai even yang terintegrasi dari persiapan menghadapi bulan Ramadhan,” kata Syamsul Rijal.

Namun, ia mengatakan dalam kenyataannya masih banyak kaum muslim fokus kepada kedahsyatan amal ibadah di bulan Ramadhan sehingga terlupakan bahwa terdapat sisi penting yang dapat seharusnya ditunaikan di bulan Syakban. “Tentu saja, kita berharap maunah serta rahmat Allah diberikan kekuatan lahir batin sehingga dalam kepribadian setia muslim itu tercermin sikap kemuliaan dan memperteguh amal ibadah dalam mengharapkan ridha Nya,” harapnya.

Masih tersisa beberapa hari lagi bulan Sya’ban. Tentu belum terlambat untuk terus berbuat amalan-amalan sunnah pada bulan persiapan menuju Ramadhan tahun ini. Mari berdoa, kemoga kita sampai kepada Ramadhan tahun ini, allahumma ballighna Ramadhan!

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: